Oleh: dakwahafkn | 28 September 2009

Nikmati Iman di Tengah Rintangan Dakwah Irian

Berdakwah di pedalaman Irian adalah pilihannya. Pilihan itupun membawa risiko yang tak tanggung-tanggung. Tidur di alam terbuka, berjalan kaki berhari-hari, menempuh perjalanan laut dengan ombak yang siap menenggelamkannya adalah hal yang sangat biasa. Belum lagi ancaman serangan nyamuk malaria di hutan-hutan Tanah Papua. Bahkan ia pun pernah dipanah sehingga lengan kanannya patah. Hingga kini bekas tusukan panah itu menyisakan lengan kanannya yang bengkok.

Laporan IDRIS AHMAD, Pekanbaru
idrisahmad@riaupos.com

Saat itu, agar racun panah tidak bekerja, rekan-rekannya membakar pisau kemudian ditusukkan ke luka panahan tersebut. Baru kemudian dibawa ke dokter di Timika. Untuk bertemu dokter, mesti berjalan kaki empat hari. Itu terjadi 1994 di daerah perbatasan antara wilayah Mapenduma dan Timika. Fadhlan tidak menaruh kebencian kepada orang yang memanah tersebut, bahkan membantu kesusahan orang itu. Akhirnya sang pemanah masuk Islam. Begitulah salah satu cara dakwah ustad kelahiran Fak-fak itu.

Baginya berdakwah adalah jalan untuk merasakan lezatnya iman, manisnya ibadah dan ikhlas merupakan senjata paling ampuh dalam dakwah. ‘’Alhamdulillah, sekalipun kami selalu dicaci maki, dihina, dipanah, diancam bunuh, bagi kami sebagai seorang dai harus mengalami peristiwa itu. Seorang dai harus sanggup dicaci maki oleh orang, harus siap badannya dipenjara, harus siap dibunuh, dihina masyarakat sekitar mereka,’’ ungkap Fadhlan saat berkunjung ke redaksi Riau Pos, Senin (7/9) dalam rangkaian ‘’Road Show Mengenalkan Dakwah Islam Menembus Rimba Irian’’ di Riau.

Menurutnya, Rasulullah SAW juga pernah dihina oleh keluarganya sendiri, diancam dibunuh, tapi tidak membuat Islam jadi agama balas dendam. ‘’Kita harus menampilkan Islam agama yang memberi kecerdasan. Tidak dengan emosional, hawa nafsu, tapi harus dengan kecerdasan sehingga mereka tertuntun dengan Islam,’’ ujar ustad yang menguasai 49 dari 234 bahasa lokal Irian itu.

Terkait motivasi dalam berdakwah di Irian, ia memberi banyak penjelasan. ‘’Kami melihat mengapa saudara-saudara kami di Irian ada yang mandi dengan melumuri badan dengan lemak babi, apakah tidak ada air? Lalu mengapa ibu-ibu di Irian ada yang menyusui anaknya dan babi? Belum lagi saudara-saudara yang seharusnya pintar dan cerdas diubah otaknya dengan minuman keras,’’ ujarnya. Maka Fadhlan dengan lembaganya Al-Fatih Kaffah Nusantara (AFKN) berusaha datang ke pedalaman-pedalaman Irian untuk mencerdaskan. ‘’Karena Islam adalah agama yang memanusiakan manusia yang belum manusia. Mencerdaskan manusia yang belum cerdas. Karena dari situ terefleksi rahmatan lilalamin,’’ katanya.

Dalam roadshow selama Ramadan 1430 H itu, ia didampingi mantan penyanyi Muhammad Khoir Hary Moekti yang kini aktif berdakwah, termasuk di Irian. ‘’Saya dan Hary Moekti ini partner. Saya pernah membawa Hary Moekti tidur di emperan sebuah rumah. Dia bilang ‘’ustad kita harus tidur di sini?’’ Saya jawab: Ya, untuk dakwah harus seperti itu. Ini balas dendam, dulu ente (kamu, red) di Jakarta enak jadi artis. Kami pernah juga naik kapal, ombak besar, Hary sudah gelisah. Lalu saya bilang ‘’Tenang kita pasti selamat. Ini ujian bagi orang berdakwah’’. Tiap malam kami tidur digigit nyamuk, saya bilang nikmatilah nikmat Allah berupa gigitan nyamuk ini, kita nikmati karena kita karena lagi berdakwah,’’ ungkap Fadhlan soal kedekatan keduanya dalam berdakwah.

Pimpinan Yayasan Al Fatih Kaffah Nusantara (AFKN), yayasan yang bergerak dalam dakwah di Irian itu menceritakan, suatu kali ia dan Hary Moekti berdakwah di Timika. Saat itu keduanya sama sekali tak memiliki uang, lalu seorang sahabat minta tolong karena isterinya melahirkan. Mendapati kenyataan itu mereka hanya bisa saling bertatapan. ‘’Yang keluar dari mata kami hanya air mata. Itulah dakwah. Kami selalu menikmati itu sebagai keindahan,’’ ujarnya.

Mendengar cerita nostalgia itu, Hary Moekti yang saat silaturahmi di redaksi Riau Pos siang itu, pun kembali menangis, berulang kali ia mengusap kedua matanya dengan handuk kecil. Bahkan ketika dipersilakan bicara, mantan rocker itu terdiam lebih dari lima menit, tak mampu bicara karena menahan tangis haru.
Fadhlan mengemukakan, rintangan dakwah merupakan bagian dari risiko yang tak harus dijauhi bahkan mesti dinikmati dan bagian dari dinamika. ‘’Ketika kita dimaki orang, di depan makian itu ada peluang dan rahmat. Kalau kita emosi jangan harap peluang itu datang,’’ tuturnya mengungkap filosofi sukses dakwahnya yang telah mengislamkan ribuan orang Irian.

Ia dan rekan-rekan dai di Yayasan Al Fatih Kaffah Nusantara (AFKN) berdialog dengan mereka dengan cara yang baik. Dalam berdakwah para dai memulai dengan cara-cara praktis. ‘’Kami mulai dengan sesuatu yang praktis, karena mereka tidak mandi, kita mulai dengan mengenalkan sabun mandi. Ternyata, Subhanallah, sabun mandi bisa menjadi rahmat buat orang lain,’’ ungkapnya.

Diceritakan, ada seorang kepala suku, saat diberi sabun mandi, mencium harumnya sabun mandi, dia tak mau bilas selama enam hari. Lalu turun hujan hujan, sabunnya pun luntur. Sang kepala suku mendapat kesegaran badan lalu ia tertidur dari pukul tiga sore hingga pukul sembilan pagi. Keesokan harinya ia merasakan kesegaran. Lalu, Fadhlan dan rekan-rekan mengajarkan kepala suku dan ribuan orang Irian lainnya bagaimana cara mandi yang benar.
‘’Ini adalah strategi Allah bagaimana mereka bisa mengenal Allah melalui harumnya sebuah sabun. Ini cara Allah. Kita hanya menuntun bagaimana mereka bisa mendapat petunjuk. Subhanallah, hanya dengan sabun mandi saja Allah membuka hati, pikiran dan pendengaran untuk menyebut nama Allah dan Rasulullah. Ini energi baru bagi kami yang berdakwah. Dan itu kami lakukan hingga saat ini, sabun itu menjadi ‘’peluru’’ kami,’’ kata pendiri Pondok Pesantren Al-Khairat Bekasi tersebut.

Selain melalui pendekatan sabun mandi, Fadhlan menggunakan metode kecantikan. Awalnya berawal dari niat Fadhlan menjodohkan seorang dai binaannya yang berasal dari Jawa Timur dengan seorang gadis Irian. ‘’Pertama saya tawarkan, ustad tersebut mengeluh. ‘’Aduh ustad, saya tidak bisa kawin dengan orang Irian.’’ Tapi saya bilang ini dakwah. Dakwah tak pernah memikirkan ini ganteng, ini cantik. Ustad itu istikharah (salat minta petunjuk Allah, red) tujuh malam, yang datang cahaya putih dan cahaya putih. Saya bilang itu artinya ente wajib menikah dengan orang Irian,’’ cerita Fadhlan.

Lalu gadis dari kampung Enarotali, Paniai Irian tersebut dibawa ke kota yang ditempuh dengan berjalan kaki 12 hari. Setelah itu naik kapal ke Surabaya, kemudian diislamkan. Sebelum kembali ke kampung halaman, selama tiga tahun enam bulan gadis Irian itu dibina di Mojokerto, Jawa Timur. ‘’Kerjanya ngaji, masuk salon. Alhamdulillah, ia hapal Quran. Rambutnya yang kribo di-rebonding jadi lurus, badan yang ada lemak dilulur. Lalu ketika dipakai gamis dan diberi jilbab, kita bawa ustad tadi. Dan ustad itu bilang, ‘’Betul ustad kalau orang Irian diberi gamis dan jilbab kayak orang Yaman’’. Lalu kami bilang ke ustad tersebut, ‘’kamu tidak berdakwah di Jawa Timur, tapi di kampung istrimu di Irian dan alhamdulillah melalui metode kecantikan ini, 462 wanita Irian masuk Islam,’’ ungkap Fadhlan.

Ketika gadis Irian yang telah menjadi isteri seorang ustad tersebut kembali pulang kampung di Enarotali, Paniai, ia telah bisa berceramah. Ibu-ibu kampungpun terkagum melihat gadis tersebut jadi cantik, lancar mengaji, bisa ceramah dan menutup auratnya. Ia pun berpromosi perubahan fisik dan keilmuannya itu karena ajaran Islam. Akhirnya ibu-ibu kampungnya masuk Islam dan ingin menjadi cantik seperti sang gadis yang saat itu sudah menjadi ustadzah dan isteri seorang ustad.

‘’Inilah yang kami lakukan terus menerus, dengan cara sederhana tidak pernah memaksa orang. Tak ada unsur memaksa. Mereka berkoteka karena di pedalaman itu tidak ada pakaian, koteka itu bukan kebudayaan. Sebagai warga negara Indonesia, sudah 64 tahun merdeka tapi masih ada warga negara mereka masih telanjang. Ini artinya orang Irian perlu perubahan, perlu kemajuan, perlu dididik ke arah lebih baik. Perlu bimbingan. Kalau orang membimbing ada maksud tertentu, jangan harap hidayah Allah akan turun, orang yang membimbing ini harus merasakan lezatnya iman dan manisnya ibadah, maka pasti akan banyak orang yang akan mendapat hidayah. Jika ada saudara-saudara kita belum masuk Islam, kita malu kepada Allah Subhanahu Wa Taala. Maka kami mulai untuk berdakwah,’’ ujarnya.

Untuk melengkapi profil Fadhlan dan mengungkap dinamika dakwahnya, setelah melalui proses editing dan ubah usai sesuai keperluan rubrik ini, berikut dimuat wawacara bersama ustad yang tampil penuh semangat itu seperti dikutip situs resmi AFKN dari majalah Suara Hidayatullah dalam dua edisi berbeda.

Bagaimana Anda dan AFKN memulai dakwah?

Sebelum berdakwah, kami mempelajari medan dulu untuk mengetahui kebutuhan masyarakat. Apa maunya, akan dibawa ke mana, lalu kami tawarkan konsep. Kalau tidak ada listrik, kami bikin listrik. Tidak ada air bersih, bikin sarana air bersih. Perlu pakaian, kami drop, lengkap dengan mesin jahitnya sehingga mereka bisa berkarya.

Seperti apa gambaran kondisi masyarakat binaan Anda?

Telepon mereka adalah nyamuk, listriknya cahaya bulan dan matahari. Mandi dan pakaianpun baru dikenalnya. Tentang kondisi alam, semua orang tahulah bagaimana Irian. Kami lalu peragakan Islam, perilakunya, aturannya. Setelah mereka lihat, kemudian bertanya-tanya. Misalnya ketika kami salat, mereka perhatikan mulai dari takbiratul-ihram, ruku’, sujud, sampai salam. Kami jelaskan dengan bahasa sederhana.

Bagaimana penjelasannya?

Mereka bertanya, ‘’Kenapa Anda angkat tangan dan mulutnya bicara-bicara?’’ Saya jelaskan bahwa bapak dan ibu, kami beragama Islam. Kami diperintah oleh Tuhan kami, Allah Subhanahu wa Taala, dalam satu hari lima kali menghadap-Nya. Ketika mengangkat tangan itu, kami menyebut Allah Maha Besar. Dia yang pantas dibesarkan, sementara kami ini tidak ada maknanya. Mereka bertanya lagi, ‘’Mengapa membungkukkan badan?’’ Supaya menyaksikan bahwa Allah menyediakan kekayaan alam di bumi. Ada batu, pohon, sayur, ikan. Ketika mengambil kekayaan alam, manusia tidak boleh sombong dan merusak, maka kami menunduk.

‘’Mengapa mencium papan?’’ Di pedalaman, kami membuat tempat salat di panggung, karena banyak babi berseliweran. Kami sujud, agar bisa menangis karena suatu hari nanti tubuh ini akan kembali dilebur dengan tanah. ‘’Mengapa menengok ke kanan dan kiri kemudian mulutnya bicara-bicara?’’ Itu salam. Setelah berkomunikasi dengan Allah, kami harus menengok ke kanan dan kiri, mungkin ada orang yang belum berpakaian, maka kami ajari berpakaian. Jika ada yang belum mandi, tugas kami mengajari mandi. Bila belum ada yang pintar, tugas kami mengajar. Tumbuhlah hubungan dengan Allah, kemudian hubungan dengan manusia di atas bumi. Terciptalah kedamaian dan keamanan.

Alhamdulillah, penjelasan semacam itu mampu mengetuk hati orang yang belum mengenal Islam. Mereka lantas bilang, ‘’Kalau begitu, kami masuk Islam.’’ Ada yang bersyahadat sendiri, banyak pula yang massal.

Ketika menjumpai masyarakat yang belum berpakaian, apa yang Anda lakukan?

Pakaian memang proses awal yang agak susah. Ini sasaran dakwah yang benar-benar pemula. Awalnya kami kenalkan celana kolor, mereka tertawa. Namun ketika mereka memakainya dan lama-lama enjoy, malah akhirnya malu melepasnya. Kami bawakan cermin. Ketika masih telanjang, mereka takut melihat bayangannya sendiri. Setelah memakai celana dan baju, mereka merasakan perubahan dalam dirinya. Ternyata lebih bagus.

Bagaimana Anda menjelaskan fungsi pakaian?

Kami kisahkan tentang Nabi Adam alaihissalaam. Barangkali pakaian koteka itu seperti Adam dan Hawa yang telanjang ketika diusir dari surga. Tapi setelah ada ilmu, maka tidak boleh lagi berpakaian seperti itu. Manusia kan punya akal, bukan binatang. Lalu kami perkenalkan pakaian, cara memakai, dan semacamnya. Kini kami kewalahan memenuhi permintaan pakaian.

Bagaimana mengajarkan pemahaman tauhid kepada penganut kepercayaan animisme-dinamisme seperti di Papua?

Aspek perilaku sangat menentukan. Ada orang yang takut dengan pohon besar. Kami tunjukkan bahwa di pohon tidak ada yang perlu ditakuti. Ada komunitas yang suka berperang, maka kami jelaskan agar tidak melakukannya lagi, apalagi jika sudah sama-sama bersyahadat. Yang suka mencuri, kami larang karena itu merugikan. Kami jelaskan hal itu mulai dari tokoh masyarakatnya, semisal kepala suku. Dia yang kemudian akan mengkampanyekan ke masyarakatnya.

Tantangan dakwah di sana, seperti apa?

Banyak. Tombak, panah, diusir, adalah hal yang biasa menimpa kami. Namun saya sampaikan kepada teman-teman agar tombak itu dijadikan shiraathal-mustaqiim. Kalau dipenjara, jadikan itu sebagai rumah surga awal. Jika difitnah, itu adalah untaian hidup dan puisi baru kita. Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam saja dilempari, dicaci-maki, difitnah, tapi beliau terus menebarkan senyum. Subhanallah!

Menurut pengamatan Anda, apakah orang yang kemudian memeluk Islam berubah menjadi lebih baik?

Luar biasa. Setiap ke musala atau masjid, mereka mengaku merasa tenang. Barangkali Islamnya justru lebih baik dibanding saya. Mereka itu sangat jujur. Perang antar suku pun akhirnya berhenti. Ada seorang kepala suku yang menyatakan masuk Islam, kemudian dianiaya sekelompok orang, ditindih kayu, ditelanjangi, namun tetap teguh memegang syahadat. Luar biasa. Saya menangis bila menjumpai hal seperti ini.

Pernahkah punya pengalaman mengesankan terkait dengan pensyahadatan massal, misalnya?

Pernah di kawasan Sorong. Ketika banyak orang bersyahadat, pohon di sekelilingnya seperti merunduk. Padahal tak ada angin tak ada hujan. Kawanan rusa liar pun tiba-tiba tenang, tidak bergerak.

Menilik apa yang Anda lakukan, tampaknya memerlukan waktu lama untuk berdakwah di suatu lokasi?

Paling tidak lima tahun di suatu tempat. Ada dai yang mesti stand by di sana. Saya sendiri jaga markas, namun sering mengunjungi mereka di berbagai daerah. Sekali ke sana, saya bisa menghabiskan waktu 9 bulan.

Selama 9 bulan itu, apa saja yang Anda lakukan?

Keliling ke desa-desa binaan. Safari ini berfungsi untuk mendata kebutuhan masyarakat dan mengevaluasi perkembangan dakwah.

Menurut sejarah, Islam lebih dulu berkiprah di Papua, namun sekarang wilayah ini identik dengan Kristen. Tanggapan Anda?

Ini korban opini media massa. Cerita tentang Irian kan tidak jauh dari koteka. Dalam waktu yang sama, posisi-posisi birokrasi dikuasai oleh saudara-saudara kami yang Kristen. Merekalah yang akhirnya lebih menonjol.

Menurut Anda, mengapa birokrasi bisa dikuasai mereka?

Kesalahan pemerintah pusat. Dulu waktu berjuang mengembalikan Papua ke pangkuan Ibu Pertiwi, dimulai dari basis massa Islam, terutama di wilayah barat. Jiwa raga Muslim Irian dipertaruhkan. Tapi setelah berhasil, Islam tidak dibesarkan, dakwah tidak dikembangkan. Alur informasi pun tidak pernah diterima dengan baik oleh basis-basis Islam. Apalagi basis birokrasi kemudian beralih ke Jayapura, sebuah wilayah warisan penjajah Portugis.

Apakah Irian yang identik dengan Kristen itu juga dipengaruhi oleh aktivitas misionaris?

Jelas. Seperti Timor Timur. Awalnya banyak yang Muslim, tapi karena ada proses pembodohan maka jadi murtad.

Di Irian, ada proses pembodohan seperti apa?

Contoh kecilnya adalah masalah pakaian dan mandi. Kami dibiarkan tetap memakai koteka dan mandi minyak babi, ini adalah pembodohan yang diajarkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Kami menjadi korban ketidakadilan pembangunan.

Telanjang dianggap sebagai kebudayaan kami, padahal itu adalah pembunuhan karakter sebagai mahluk, sebagai hamba Allah. Kalau di antara kami ada yang jadi menteri atau anggota DPR, apakah ke Jakarta pakai koteka?

Ibu yang meneteki anaknya dan babi sekaligus juga dibiarkan. Tradisi perang antarsuku dipertahankan. Akibatnya, muncul anggapan bahwa orang Irian itu jahat. Mereka juga membawa minuman keras untuk membuat generasi muda kami mabuk-mabukan.

Apa yang Anda lakukan untuk memberantas pembodohan itu?

Pendidikan. Ini adalah sumber utama untuk mengubah manusia. Kalau tidak dimulai dengan pendidikan, ke depan kita akan hancur, termasuk tatanan tauhid atau aqidahnya. Masyarakat Irian butuh pemikiran, perubahan, butuh ketenangan hidup. Bukan dijual untuk dijadikan ladang hidup. Selama ini kami dibiarkan miskin agar bisa jadi proyek.

Generasi Irian harus dibekali dengan konsep ilmu yang benar. Dengan demikian, ketika sudah berilmu dan kembali ke kampung halaman, jiwanya akan terpanggil untuk memperbaiki masyarakatnya. Dan untuk mendapatkan ilmu yang benar, generasi muda Muslim Papua tidak boleh di lingkungan asalnya, tapi harus hijrah.

Apakah anak-anak diarahkan untuk mengambil jurusan tertentu?

Terserah mau ngambil apa, sesuai potensinya. Mau jadi guru, tentara, polisi, pengusaha, arsitek, dokter, wartawan, tidak masalah. Asal, profesi sebagai dai tidak boleh lupa. Ketika masuk di kelompok masyarakat, dakwah dulu, baru bicara struktur atau birokrasi. Ini adalah amanah yang kami berikan kepada seluruh anak. Kalau tidak, bagaimana orang bisa tahu bahwa Islam bisa tumbuh dari Irian? Dan perlu dicatat, 10 atau 20 tahun lagi merekalah yang bakal menentukan masa depan Papua.

Bagaimana cara meyakinkan keluarganya agar rela anak-anak dibawa ke tempat yang jauh?

Mereka sudah melihat apa yang sering kami lakukan di kampung. Kami biasa salat berjamaah Subuh di tempat mereka, ada kultum, kemudian bekerja. Waktu zuhur ke musala lagi, habis Ashar ada taklim. Kami tunjukkan foto, majalah, atau apapun yang bisa menunjukkan tentang anak-anak Irian yang berhasil, berkat pendidikan. Mereka pun bertanya, ‘’Bagaimana caranya sekolah?’’ Kami jelaskan, ‘’Di sini gurunya susah. Bagaimana kalau anak Bapak atau Ibu kami bawa?’’ Mereka pun setuju. Agar lebih meyakinkan, orangtua atau keluarganya kami bawa ke Jawa. Matanya terbuka. Begitu kembali ke kampung, mereka bercerita kepada tetangga. Begitu seterusnya.

Bagaimana proses rekrutmennya?

Sebelum anak-anak dibawa, kami ‘’tidur’’ dulu di kampungnya 2-3 bulan, bahkan bisa sampai 2 tahun. Kami bicarakan dari hati ke hati bagaimana jika anak-anak ini dibina. Ternyata responsnya luar biasa. Kadang-kadang saya bisa bawa 50-60 anak ke Jawa, baik yang sudah Muslim atau masih mualaf.

Ketika datang ke Jawa, apakah mereka mengalami masalah, karena perbedaan kultur misalnya?

Ketika awal di pesantren, memang agak susah. Perlu adaptasi, mulai dari kebiasaan sampai masalah makan. Anak-anak ini terbiasa makan sagu atau ubi, maka ketika makan nasi jadi sakit perut. Atau, kalau makan nasi habis sebakul. Alhamdulillah, lama-lama bisa adaptasi dan berprestasi. Ada beberapa kader kami di Pesantren Gontor, misalnya, yang hafidz Alquran.

Bagaimana memantau perkembangan anak-anak yang tersebar di berbagai tempat itu?

Setiap Ramadan kami kumpulkan di Bekasi (Markas AFKN di Pesantren Al-Khairat yang dibina ustad Fadhlan, pesantrean khusus bagi santri asal Papua, red). Anak-anak bisa ketemu, tukar pikiran dan pengalaman. Masing-masing akan termotivasi dengan perkembangan temannya. Kami pun bisa memantau sejauh mana perkembangan anak-anak.

Kantor di Bekasi yang aktif sejak tahun 1985 ini menjadi semacam markas dan pusat informasi. Di sinilah jadi tempat bertanya. Sebelum ada markas, saya banyak di hutan. Komunikasi tidak lancar sehingga banyak masalah tak terselesaikan. Alhamdulillah, sekarang lebih mudah, meskipun tempat ini (di Bekasi) masih sewa. Ada lagi pusat-pusat informasi seperti di Surabaya dan Makassar.***


Responses

  1. ass.saya sangat terharu dan bangga tentang dakwak dipapua.pada waktu lalu masjidku kedatangan sebuah yayasan wakaf al qur’an yg memutar film dokumenter tentang dakwah papua yg dirilis akfn.semoga Alloh memberi hidayah orang orang nuu war.amin

  2. semoga ALLAH selalu memberikan jalan untuk semua amin….thanx God thanx Allah,,,,

  3. Jikalau ada suatu saat Calon Presiden Asli Orang PAPUA apalagi muslim seperti ente…Insya Allah, saya dan keluarga saya pasti memilihnya..

    Sedih sekali jika kita terpecah belah, padahal jika kita satu pasti makin kuat..Islam adalah agama Hati..kuncinya hanyalah Ikhlas..jika tidak ada lagi rasa cemas, kuatir, gelisah, takut, ragu2, berarti dia sudah Islam..Karena tiada Tuhan lain dalam hatinya, kecuali ALLAH SWT dan Muhammad sebagai Rasul-Nya..Mari kita belajar menuu Islam yang Hatinya selalu dibimbing Allah, dan memberikan Rahmat bagi manusia lainnya..Allahu Akbar

  4. ya Tuhan, saya baca2 semua isi artikel di blog ini, sangat menggugah hati saya, saya sangat terkagum2 dengan perjalanan Islam disana, semoga Tuhan memberkati orang2 yang ingin hidup dijalan-Nya..
    Amin..

    Gerry, Palembang.

  5. Hebatnya jln dakwah yg ustaz harungi..saya amat kagum dgn kerja2 dakwah yg ustaz lakukan..salam ukkhuwah dari saya di malaysia..


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 40 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: