Oleh: dakwahafkn | 29 Desember 2008

Program Beasiswa Buat Anak Papua

Sekitar 1400 anak-anaGenerasi Muslim Nuu Waark Papua disekolahkan secara cuma-cuma alias gratis. Awalnya dimasukkan ke berbagai pesantren di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi, kemudian menempuh jenjang perguruan tinggi, dalam dan luar negeri. Ratusan di antaranya tengah menempuh jenjang S-1, dan sudah 29 orang yang meraih gelar S-2

Pendidikan adalah kunci untuk sebuah perubahan besar. Tanpa pendidikan, masyarakat Papua tak akan mengenal peradaban. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) serta Iman dan Taqwa (IMTAQ) sangat penting sebagai bekal menyongsong masa depan. Tanpa Pendidikan (ilmu) sama saja hidup dalam kebodohon, terbelakang, dan terus menjadi obyek orang lain.

Kalau tidak dimulai dengan pendidikan, ke depan generasi Papua akan hancur, termasuk tatanan tauhid dan aqidahnya. Masyarakat Papua butuh pemikiran, perubahan, dan butuh ketenangan hidup.

“Selama ini kami dibiarkan hidup dalam kemiskinan. Ironisnya lagi, kemiskinan kami dijadikan proyek oleh mereka yang mengatasnamakan kepentingan rakyat,” ungkap pimpinan al-Fatih Kaaffaah Nusantara (AFKN) Ustad Fadzlan Garamatan.

Dikatakan Fadzlan, generasi Papua harus dibekali dengan konsep ilmu yang benar. Dengan demikian, ketika sudah berilmu dan kembali ke kampung halaman, jiwanya akan terpanggil untuk memperbaiki masyarakatnya. Untuk mendapatkan ilmu yang benar, generasi muda Muslim Papua harus hijrah. Selama di perantauan, mereka akan banyak menimba ilmu dan pengalaman hidup yang bermanfaat. Hijrah adalah sebuah keharusan. Tanpa itu, sulit bagi generasi Papua untuk bisa berkembang.

Untuk membawa anak-anak Papua belajar ke Jakarta, Sumatera, dan Surabaya, AFKN menjalin hubungan kerjasama dengan stakeholder pimpinan pesantren, rektorat, pimpinan yayasan hingga Baitul Mal wa Tamwil. Bahkan pendekatan secara pribadi dengan mereka yang memiliki kepedulian dengan perjuangan AFKN mengangkat harkat dan martabat masyarakat Muslim Papua.

Di antara dermawan, ada yang bersedia menjadi ayah angkat, dan membiayai hidup mereka selama belajar di pesantren atau kampus, tempat anak-anak Papua menuntut ilmu. Adapun anak-anak Papua yang datang ke kota besar tersebut, berasal dari kabupaten yang berbeda. Ada dari Kaimana, Fakfak, Bintuni, Raja Ampat, Wamena, Sorong, Nabire, dan wilayah Papua lainnya.

Di Kampus Indonusa Unggul misalnya, Holiqurraman Raus selaku Pembina AFKN memiliki andil besar dalam membantu anak-anak muda Muslim Papua. Mereka, selain diberikan beasiswa, juga mendapat fasiltas tempat tinggal dengan menyewa kost, dekat lingkungan kampus. Terutama yang ahwat. Sedangkan yang ikhwan (laki-laki) tinggal di masjid. Ikhwan diberi tugas untuk memelihara kebersihan masjid dan memakmurkannya.

“Kami sangat berterima kasih dengan Pak Holiq yang mau membantu kami,” ujar Yusuf Sayop, mahasiswa asal Fakfak tingkat akhir.

Setidaknya ada 11 anak (Putra-putri) Muslim Papua yang mendapatkan kesempatan belajar di Univesitas Indonusa Unggul, sebuah perguruan tinggi swasta ternama di Jakarta. Mereka adalah Muksin Patipi, Yusuf Sayop, Usman Iba, Siti Adia Akatian, Siti Woretma, Fitria Patiran, Siti Rahayu Gwas Gwas, Hajija Rumakabes (semua dari Fakfak), Eric Arta Saiyof (Sorong), Nasir Tonoi (Bintuni), Yahya Boimasa (Kaimana). Selain di Kampus Indonusa Unggul, sejumlah mahasiswa asal Papua juga mendapatkan beasiswa di Kampus Universitas Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan, Ciputat, salah seorang mahasiswanya adalah Muhammad Mudzakkir Asso yang baru saja meraih gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd).

Namanya anak muda, pasti punya banyak keinginan. Terlebih berada di tengah pergaulan anak-anak kota metropolitan. Diantara teman-temannya ada yang pergi kuliah dengan mengendarai mobil atau motor merk terbaru. Sedangkan anak Papua hanya bisa memandangnya seraya berangan-angan. “Kami tak diberi uang saku. Jangankan beli buku, mau jajan saja tidak punya uang,” ujar Yusuf didampingi rekan-rekannya sesama anak Papua.

Sesuai Minat

Dikatakan Ustad Fadzlan, untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi di Jakarta atau kota besar lainnya, anak-anak Papua diberikan kebebasan untuk memilih fakultas dan jurusan yang diminati. Tak ada yang melarang punya cita-cita untuk menjadi guru, tentara, polisi, pengusaha, arsitek, dokter, wartawan, mubaligh, semua dikembalikan kepada motivasi anak-anak Papua sendiri.

“Terpenting, dimana pun mereka bekerja dan apapun profesinya, generasi Muslim Papua harus tampil sebagai juru dakwah. Jika menjadi pengusaha, maka jadilah pengusaha yang berdakwah dengan hartanya. Bila menjadi wartawan, jadilah wartawan yang berdakwah denga penanya. Kalau menjadi tentara, jadilah tentara yang berakhlak, membela kaum yang lemah dan seterusnya,” tutur Fadzlan.

Kata Ustad Fadzlan, profesi da’i tidak dboleh ditinggalkan. Ketika masuk di kelompok masyarakat, yang harus didahulukan adalah dakwahnya, baru kemudian bicara struktur dan organisasi. Ini adalah amanah yang kami berikan kepada seluruh anak Papua agar menjaganya dengan baik. Jika tidak, bagaimana orang bisa tahu bahwa Islam bisa tumbuh dari Papua?

Untuk membawa anak-anak Papua untuk di sekolahkan ke Jawa, Sumatera, dan Sulawesi, tentu membutuhkan strategi dan pendekatan yang baik kepada orang tuanya. Pendekatan yang paling sederhana adalah menunjukkan foto, majalah, atau apapun yang bisa menunjukkan tentang anak-anak Papua yang berhasil, berkat pendidikan.

Untuk lebih meyakinkan orang tuanya, AFKN bisa membawa mereka ke Jawa. Sesampai di Jakarta, mata mereka pun terbuka dan memahami bahwa ilmu adalah kebutuhan yang sangat penting. Begitu kembali ke pulang, mereka bercerita kepada tetangga, kerabat, sanak dan saudaranya, bahwa orang Papua harus melakukan perubahan, dengan mengirimkan anak mereka belajar di pulau seberang.

Mengenai proses perekrutannya, sebelum anak-anak Papua dibawa ke Jakarta, da’i AFKN “bermalam” dulu di kampungnya selama 2-3 bulan, bahkan bisa sampai 2 tahun. Dalam pendekatan itu, kedua belah pihak bicara dari hati ke hati untuk menawarkan kepada orang tuanya agar anak-anak mereka dibina. Ternyata responnya luar biasa. Alhasil, AFKN bisa bawa 50-60 anak ke Jawa, baik yang Muslim maupun yang masih muallaf.

“Ada beberapa kader kami di Pesantren Gontor yang hafidz Al Qur’an,” cerita Fadzlan merasa bangga dengan anak-anak binaannya.

Tentu saat dibawa ke Jawa, anak-anak Papua harus beradaptasi dengan lingkungan dan budaya yang berbeda. Tapi umumnya, mereka cepat beradaptasi, baik dalam hal pergaulan maupun pola makannnya. Sebagai contoh, anak Papua terbiasa makan sagu atau ubi, maka ketika makan nasi, perut mereka mendadak menjadi sakit. Atau kalau makan nasi habis “sebakul”.

Tersebarnya anak-anak Papua yang dikirim ke beberapa pesantren di Jakarta, tak membuat AFKN lepas dari tanggungjawab. Artinya, pimpinan AFKN terus memantau perkembangan mereka. Jika ada yang sakit, atau ada masalah selama di perantauan, AFKN akan menjaminnya.

Setoran Hafalan

Setiap Ramadhan dikumpulkanlah  anak-anak Papua di Bekasi, markas AFKN sekaligus kediaman Ustad Fadzlan dan keluarganya. Di markas yang berdiri sejak 1985 ini acapkali menjadi pusat informasi dan tempat bertanya. Di sinilah, anak-anak bisa ketemu, saling bertukar pikiran dan pengalaman. Setelah bertemu, biasanya masing-masing akan termotivasi dengan perkembangan saudara-saudaranya sesama putera daerah. Dengan bertatap muka, pimpinan AFKN bisa mengetahui sejauhmana perkembangan anak-anak binaannya.

“Sebelum ada markas, saya banyak di hutan. Komunikasi tidak lancar sehingga banyak masalah tak terselesaikan. Alhamdulillah sekarang lebih mudah, meskipun tempat ini (markas) masih sewa. Selain di Bekasi, markas AFKN juga terdapat di Surabaya dan Makasar,” kata Fadzlan.

Yang menarik, setiap pekan, masing-masing ketua kelompok yang mewakili anak-anak Papua harus setoran hafalan beberapa ayat suci al-Qur’an. Jika tidak menyetor, Ustad Fadzlan marah dan tidak segan-segan menegur mereka.

“Ustad bisa marah, kalau kami tidak setor hafalan ayat Al Qur’an. Tapi setelah ustad marah, beliau tersenyum lagi. Ustad hanya ingin memotivasi kami untuk serius belajar dan meningkatkan kualitas hafalan Al Qur’an,” kata Yusuf Asop.

Pernah suatu kali, salah seorang anak Papua mendapat masalah di kampusnya. Anak Papua itu tertangkap basah saat membawa senjata tajam di dalam tasnya. Akibat perbuatannya itu, mahasiswa Papua tersebut lalu diamankan pihak berwajib. Disaat itulah pimpinan AFKN bereaksi cepat dan tanggap untuk mencari jalan keluarnya.

Diakui mahasiswa, selama belajar, ada juga rasa jenuh dan rindu kepada orang tua dan kampung halaman mereka. “Kalau kami kangen, kami akan menelpon, atau menulis surat. Setidaknya kerinduan kami dapat terobati.”***

Sumber: Cyber Sabili


Responses

  1. bravo,,,

  2. AsSLmlkm warahmatullah..
    Sy seorg rmaja putri brumur 17 th. Skrg du”k d bngku klas 3 SMK d Merauke. Ya,untk mlanjtkn pndidikn,sy ingn mncari beasiswa agr mngurangi bban org tua. Krna sy msih puny 5 adk. Mhon info ttg cara mndapatkn beasiswany ya.. Krm sj ke email sy loxima16@yahoo.com
    syukron.
    Wsslm wrahmatullah..

  3. gimana cra mndptkan bea siswa ya??? tlong info ke e-mail saya: nason_semi@yahoo.com

  4. Assalamu’alaikum
    sya sdang mncari beasiswa untk mlanjutkan kuliah… skrang klas 3 SMA d bogor dngan beasiswa pemda, apakah sya bisa ngajuin beasiswa?? sya dri fak-fak n bgaimana cra mndapatkan beasiswa?? mhon infonya yati.dj66@yahoo.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: